|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

19 Oct 2018

Perpusnas Serahkan Bantuan MPK untuk Kabupaten Ponorogo & Tuban

Medan Merdeka Selatan, Jakarta – Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Tuban menerima hibah Mobil Perpustakaan Keliling dari Perpustakaan Nasional RI. Pemberian dilakukan secara simbolis oleh Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo Agus Pramono dan Ketua DPRD Kabupaten Tuban Miyadi di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta, pada Jumat (19/10).

MPK merupakan bantuan stimulan yang bertujuan memperluas layanan perpustakaan sehingga bisa menjangkau masyarakat di daerah terpencil. Bantuan diberikan dalam kunjungan kerja anggota DPRD Kab. Ponorogo dan DPRD Kabupaten Tuban ke Perpusnas. 

Syarif Bando menyatakan, paradigma perpustakaan sudah mengalami perubahan sebagai deretan buku. Saat ini, perpustakaan harus menjangkau masyarakat dan koleksinya bisa diberdayakan oleh pemustaka. “Di sinilah negara bisa hadir, dengan membuat buku tentang potensi dan budaya lokal. Karena tidak bisa orang Ponorogo dan Tuban meminta orang di daerah lain untuk membuat buku tentang potensi lokalnya,” jelasnya.

Menurut Syarif, pentingnya eksistensi perpustakaan diilustrasikan dalam sebuah bangunan empat lantai. Lantai empat diisi oleh Museum, lantai  tiga diisi oleh Arsip, dan lantai dua diisi oleh Pendidikan. “Lantai satu diisi perpustakaan. Kenapa di lantai paling bawah? Karena perpustakaan akan menjawab semua pertanyaan tentang wilayah tersebut. Karena tidak ada guru khusus tentang Ponorogo atau Tuban. Jadi perpustakaan harus memiliki buku yang bisa menjawab berapa potensi pertanian di wilayah itu, kekayaan yang bisa dimanfaatkan, dan sebagainya,” tuturnya.

Perpustakaan berperan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia dan mengatasi kemiskinan. Terkait dengan hal ini, salah satu program Perpusnas yang akan diluncurkan pada 2019 adalah Literasi untuk Kesejahteraan. Program ini merupakan lanjutan dari Perpuseru yang telah dilaksanakan sejak 2011. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Woro Titi Haryanti menyebut program ini merupakan tindak lanjut dari masuknya perpustakaan dalam agenda Prioritas Nasional 1. “Akan dibangun 300 perpustakaan di 60 kabupaten, di 21 provinsi. Melalui program ini, memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana belajar, aktualisasi diri, menumbuhkan kreatifitas dan inovasi masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Agus Pramono menilai perpustakaan merupakan pintu masuk utama untuk mengentaskan kemiskinan. Perpustakaan di masa depan harus bisa membaca peluang ini dengan menyediakan buku yang aplikatif. Menurutnya, hal ini bisa terwujud selama ada komunikasi yang intens antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. “Ponorogo terkenal salah satunya dengan Kampung Idiot. Kini, Kampung idiot sudah berubah karena peran perpustakaan. Di mana warga bisa menghasilkan produk seperti keset, alat bantu untuk sulap. Ini menunjukkan perpustakaan berperan mengentaskan kemiskinan,” tuturnya.

Ketua DPRD Kabupaten Tuban Miyadi berkomitmen mendorong perpustakaan untuk meningkatkan kinerjanya sehingga masyarakat memanfaatkannya untuk meningkatkan kecerdasan. Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tuban Joko Prijono. Pihaknya berusaha mengubah paradigma masyarakat mengenai perpustakaan yang dianggap sebagai tempat membaca dan meminjam buku. Perpustakaan dijadikan sebagai tempat untuk meningkatkan kapasitas dengan melibatkan masyarakat seperti pelatihan mendongeng, kerajinan pemanfaatan kain perca, workshop desain grafis, lomba minat baca, dan sebagainya. Pihaknya juga bersinergi dengan OPD terkait yang didapuk sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.

“Sekarang pengunjung perpustakaan sekitar 500-1.000 orang per hari dari yg sebelumnya 50 orang per hari. Karena kami juga ekspansi hingga ke kecamatan. Di samping layanan bacaan buku konvensional, juga ada pengembangan IT yang dilakukan secara gratis baik di perpustakaan daerah hingga ke kecamatan. Sehingga kalau dulu perpustakaan menjemput bola, sekarang masyarakat yang membutuhkan kita,” pungkasnya.

Reportase: Hanna Meinita



Diunggah oleh admin (2018-10-19 17:41:17)