|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

14 May 2018

Anugerah Komponis Indonesia : Ubun R. Kubarsah, Sang Pelestari Tembang Sunda Cianjuran

Medan Merdeka Selatan, Jakarta--Cianjuran, salah satu budaya asli Tanah Sunda yang pertama kali dikenalkan oleh R.A.A. Kusumaningrat, seorang Bupati Cianjur  pada periode 1834-1862. Semasa hidupnya, R.A.A Kusumaningrat dikenal juga dengan sebutan Dalem Pancaniti. Sebutan Pancaniti diberikan karena seringnya ia bertafakur mencari ilham di salah satu ruangan (pendopo). Tembang Sunda Cianjuran merupakan jenis kesenian yang hingga saat ini menjadi salah satu ikon seni musik di tatar sunda.  Tidak banyak seniman Cianjuran yang tetap eksis di tengah gempuran jaman, salah satunya yang terkenal adalah Ubun R. Kubarsah yang telah menekuni seni sunda Cianjuran sejak 1980. 

Karya seni Sunda yang dihasilkan Ubun, lelaki kelahiran Bandung 1953, tidak terbatas pada tradisi Cianjuran saja, melainkan juga pada seni sastran dan karya tulis, seperti buku, novel, dan sajak-sajak. Tradisi Cianjuran yang dikembangkan Ubun telah mendunia. Ia bahkan pernah diminta tampil oleh Badan internasional PBB, UNESCO. Kegigihan Ubun bertahan dan sanggup memodernisasi seni Cianjuran agar tetap bertahan di tengah era musik elektronik (digital) mendapatkan hasil yang setimpal. Ubun R. Kubarsah diganjar Anugerah Komponis Indonesia 2018 dari Perpustakaan Nasional, Senin, (14/5).

Anugerah Komponis Indonesia 2018 adalah ajang yang rutin diselenggarakan Perpusnas setiap tahunnya yang dimulai sejak 2017. Pada 2017 lalu, Anugerah Komponis Indonesia diberikan kepada salah satu maestro musik Tanah Air, yakni Ismail Marzuki. Dan 2018, anugerah tersebut diberikan kepada pelestari kesenian tradisional dari Jawa Barat, Ubun R. Kubarsah. "Ubun dinilai telah produktif, lama bereksis, dan karya yang mendunia," ujar Direktur Deposit Bahan Pustaka Perpusnas Lucya Dhamayanti mengomentari kriteria Anugerah Komponis Indonesia.

Ubun R. Kubarsah dikenal sebagai komposer dan kreator musik sunda. Hingga kini, sudah lebih dari 300 lagu ia gubah. Dari tangan dan ide-idenya banyak lahir karya-karya monumental dan konsep yang mampu memberikan pembaruan dan pencerahan bagi masyarakat Sunda. Tidak sekedar beraktifitas di bidang seni Cianjuran, Ubun juga aktif menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga, terutama dalam upaya pengembangan materi seni budaya yang bisa digunakan untuk kepentingan dunia pendidikan. Salah satunya pemikiran Ubun yang revolusioner adalah melahirkan seni Bandungan sebagai genre baru dalam musik seni Sunda, serta materi Sekar Anyar yang merupakan pengembangan baru dari materi Cianjuran.

"Seni Cianjuran dilatarbelakangi seni papantunan (pantun). Cianjuran terbentuk dari pantun Sunda. Seperti bernostalgia dengan kebesaran Padjadjaran. Ada empat pantun populer yang digunakan dalam Cianjuran, diantaranya Sangkuriang dan Lutung Kasarung," imbuh Yus Wiradiredja, sejarawan  Sunda saat menjadi narasumber talkshow Tembang Sunda yang bertemakan " Tembang dan Kawih Sunda Dilihat dari Perspektif Kehidupan Sosial Masyarakat Sunda". 

Ubun mengakui bahwa yang dilakukannya adalah usaha yang penuh tantangan. Mengangkat nilai kearifan lokal tapi disisi lain era globalisasi sudah menjadi keniscayaan.  Keniscayaan tersebut memaksa dirinya menggunakan perkembangan teknologi untuk tetap berkarya. "Kehidupan tembang Sunda tidak hanya dilestarikan tapi juga harus terus berkembang dengan titik-titik inovasi yang diperlukan sewaktu-waktu," pesan Ubun.

Anugerah Komponis Indonesia merupakan salah satu bentuk promosi dan sosialisasi yang dilakukan Perpusnas dalam upaya menghimpun seluruh karya anak bangsa sesuai amanah Undang-undang No. 40 tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR). Karya tradisional adalah satu bentuk karya anak bangsa yang banyak tersebar namun belum terhimpun dengan baik. Perpusnas hingga saat ini baru berhasil menghimpun 100 karya musik dalam bentuk partitur dari beberapa musisi/pencipta lagu seperti Titik Puspa, Ibu Sud dan Harry Sabar. Demi memaksimalkan upaya tersebut, Perpusnas mencoba menggandeng sejumlah pihak seperti institut seni maupun asosiasi-asosiasi musik agar karya anak bangsa yang dihimpun tidak berhenti di angka 100. "Yang utama dari upaya tersebut adalah kesadaran,"ungkap Lucya.

Khusus di bidang musik, Perpusnas adalah satu-satunya lembaga yang berhak untuk memberikan identifikasi dalam bentuk Intenastional Standar Music Number (ISMN). ISMN bukan sebuah copyright tapi adalah alat untuk melacak sebuah karya seni musik berupa partitur maupun notasi serta menjamin tersimpan dengan baik, secara fisik maupun identitas sehingga tidak dimungkinkan terjadi plagiarisme dalam bentuk apapun.

Reportase : Hartoyo Darmawan

 



Diunggah oleh admin (2018-05-16 13:16:06)