Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

04 Apr 2017

Selamat Jalan Tokoh Perpustakaan Indonesia, Mastini Hardjoprakoso…

JAKARTA – Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Tokoh perpustakaan Indonesia, Mastini Hardjoprakoso, menutup mata untuk selamanya pada usia 93 tahun karena sakit yang lama diderita. Kepala Perpustakaan Nasional RI periode 1980-1998 ini wafat pada Senin, 3 April 2017, di rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Almarhumah dimakamkan pada Selasa, 4 April 2017 di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Upacara pemakaman almarhumah dilakukan secara militer dan dipimpin oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muh. Syarif Bando.

Prosesi upacara pemakaman diawali dari rumah duka almarhumah. Keluarga menyerahkan jenazah kepada negara melalui Perpustakaan Nasional. Selanjutnya, iring-iringan pelayat mengantarkan almarhumah menuju peristirahatan terakhir di Blok Z, TMP Kalibata. Upacara pemakaman dilakukan pada pukul 11.00 WIB. Dalam upacara militer yang dipimpin Syarif Bando tersebut, tembakan salvo terdengar berdentum mengiringi rasa duka yang meliputi para pelayat. Dalam upacara pemakaman turut hadir kerabat keluarga serta segenap karyawan dan pimpinan Perpustakaan Nasional.

Dalam pidatonya, Syarif mengucapkan turut berdukacita mendalam atas kepergian almarhumah. Syarif mengucapkan terima kasih atas pengabdian dan dedikasi almarhumah dalam memajukan perpustakaan dan profesi pustakawan di Indonesia. “Saya turut mengucapkan dukacita sedalam-dalamnya dan semoga amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT,” ujar Syarif. Mastini, yang merupakan Kepala pertama Perpustakaan Nasional RI, dikenal sebagai sosok yang disiplin dan pekerja keras.

Mastini Hardjoprakoso lahir di Surakarta pada 7 Juli 1923. Putri Bupati Mangkunegaran, Solo, ini lulusan Universitas Hawai di Amerika Serikat dengan gelar Master of Library Sience (MLS) pada 1972. Mastini menjalani karier di bidang perpustakaan sebagai Asisten Perpustakaan di Lembaga Kebudayaan Indonesia pada 1953. Pada 1968, Mastini didaulat menjadi Kepala Perpustakaan Museum Pusat yang saat itu berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada 1980, Mastini diangkat menjadi Kepala Perpustakaan Nasional (masih di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Pada 1990, Perpustakaan Nasional statusnya berubah tidak lagi di bawah naungan Depdikbud, melainkan menjadi lembaga negara yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Mastini masih menjadi kepala lembaga yang berubah namanya menjadi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tersebut, hingga purnatugas pada 1998.

Karena jasa luar biasanya terhadap negara di bidang perpustakaan, Presiden Soeharto menganugerahi Mastini anugerah Bintang Mahaputera Utama pada 1995. Pada 2016, Perpustakaan Nasional menganugerahi penghargaan Lifetime Achievement Nugra Jasadarma Pustaloka untuk Mastini (yang pada saat itu diwakilkan oleh adik iparnya, Ny Soesilo H).

Selain itu, Mastini juga aktif di Gerakan Pramuka. Sejak 1946, Mastini sudah menjadi anggota kwartir cabang Solo di Pandu Rakyat Indonesia. Hingga pindah ke Jakarta, Mastini masih aktif di organisasi kepanduan. Bahkan pada 1957, Mastini dinobatkan menjadi anggota Tim Pelatih Pemimpin Gerakan Pramuka. Aktif berorganisasi mengantarkan Mastini menjadi Andalan Nasional Gerakan Pramuka pada 1974.

Reporter: Hanna Meinita/Fotografer: Arwan Subakti/Hartoyo Darmawan



Diunggah oleh admin (2017-09-20 22:40:37)