|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

22 Oct 2021

Kepala ANRI, Kepala BKN, Kepala Perpusnas Bersama Meresmikan Pusat Studi Arsip Kebencanaan / Arsip Tsunami di Aceh

Banda Aceh - Kepala Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengunjungi Aceh pada Kamis (21/10/2021) dalam rangka Kunjungan Pameran “Aceh & BRR” dan peresmian Pusat Studi Arsip Kebencanaan / Arsip Tsunami di Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI di Bakoi, Banda Aceh yang dipersembahkan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat dunia terkait bencana tsunami.

Dalam rangkaian kunjungannya Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando secara simbolis menghibahkan Layanan Pengelolaan Perpustakaan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh melalui Asisten III bidang Administrasi Umum Sekda Aceh, Iskandar. Kepala ANRI Imam Gunarto juga menyerahkan piagam penghargaan kepada Pemerintah Aceh atas Peran Serta dalam Penyelamatan Arsip Tsunami bertempat di Gedung Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh pada Jumat (22/10/2021).

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menyampaikan, pada tahun 2021 Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) bersama dengan Pemerintah Provinsi Daerah Aceh dan Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, akan mengajukan Naskah Hikayat Aceh sebagai nominasi Memory of the World (MOW) terbaru. “Sekali lagi mohon doa restu kepada pemerintah Aceh dan seluruh masyarakat untuk bersama mengaktualisasikan Naskah Hikayat Aceh mendapatkan sertifikat Memory of the World dan dituangkan dalam kegiatan yang dapat memperlihatkan kejayaan di masa lalu bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar,” jelasnya.

Menurut Kepala ANRI Imam Gunarto selain Naskah Hikayat Aceh, dua dokumen lain yang merupakan koleksi ANRI yakni arsip pidato Soekarno “To Build The World a New” yang disampaikan pada Sidang Umum PBB ke-XV tanggal 30 September 1960 dan Khasanah Arsip KTT Gerakan Non Blok Pertama juga akan diajukan kepada UNESCO sebagai Memory of the World.

MOW adalah ingatan kolektif manusia berupa warisan dokumenter (dalam bentuk audio, visual, audio-visual, dan benda cetakan) yang secara sah dapat menjadi bukti kejadian penting dalam sejarah umat manusia. MOW memperlihatkan keunikan warisan budaya manusia dalam bentuk pemikiran atau penemuan baru dan segala bentuk peninggalan yang bermanfaat bagi peradaban. “Nah untuk menjaga itu menjadi sangat penting karena Indonesia menyimpan begitu banyak warisan dokumenter yang kita banggakan sebagai bagian dari Nationality Improvement dan proses diplomasi budaya,” ujarnya.

Disamping itu Kepala BKN Bima Haria Wibisana menegaskan bahwa Hikayat Aceh adalah kumpulan-kumpulan dokumen yang bisa dilihat, dibaca dalam kegiatan sehari-hari dan bukan benda mati atau artefak serta nilai-nilainya tertanam dalam masyarakat Aceh sebagai simbol jati diri. “Mudah-mudahan kita dapat bersama-sama melestarikan warisan dokumenter sebagai ingatan dunia,” tutupnya.

Dukungan juga ditunjukan oleh Pemerintah Aceh melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai MoW 2019 pada Oktober 2018 lalu. Selain itu Pemerintah Aceh akan mencetak dan memperbanyak Hikayat Aceh untuk dijadikan koleksi literasi di setiap perpustakaan Aceh dan secara nasional sebagai bentuk promosi dan diseminasi informasi. “Hal tersebut merupakan cara untuk menyelamatkan dan memulihkan naskah kuno sebagai warisan budaya masa lalu. Namun berkaca kepada kondisi Aceh yang rawan bencana, kita konsentrasi terhadap penyelamatan dan penghimpunan koleksi yang merupakan hal yang penting maka kami membutuhkan dukungan dari semua pihak,” harap Asisten III Sekda Aceh Iskandar.

 

Reporter: Arwan Subakti

Fotografer: Ahmad Kemal Nasution



Diunggah oleh admin