|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

News

Home / News

09 May 2020

"Pageblug" Covid-19 dan Kalabendu Ekonomi

GLOBAL pandemik corona (Covid-19) meski tingkat kematiannya diperkirakan hanya sekitar 2 persen, namun dampaknya sangat luas, sebagai tragedi kemanusiaan yang mengerikan dan mencemaskan. Kalau mengingat zaman dulu ada istilah zaman “pageblug” karena ganasnya penyakit menular tersebut, ibaratnya pagi sakit sore meninggal, dan sore sakit pagi meninggal seperti yang kita rasakan saat ini.

Updatedata BNPB per 25 April 2020, di Indonesia ada 8.607 kasus orang positif Covid-19, 1.042 orang sembuh dan 720 orang meninggal. Untuk seluruh dunia sesuai data Coronavirus Resource Center di Johns Hopkins University, ada 2.812.557 kasus orang positif Covid-19, 793.838 orang sembuh dan 197.217 meninggal.

Hendaknya kita sadar diri untuk berdisiplin mengikuti protokol kesehatan: hidup sehat dan bersih, jaga jarak (social distanching), #dirumahsaja, saling membantu dalam aksi-aksi kesetiakawanan sosial, tidak menyebar hoax yang justru menjadikan suasana carut marut. Sikap menahan diri inilah yang perlu kita bangun dan kembangkan untuk mencari solusi bersama dan yakinlah bahwa musibah ini bakal berlalu.

Namun kita tetap harus ikhtiar sekuat tenaga disertai doa sesuai ajaran agama masing-masing. Perjuangan untuk melawan penyebaran virus corona ini membuat negara dalam hal ini pemerintah pusat, pemerintah daerah hadir hingga ke desa-desa. Harus ada kesatuan langkah dan upaya agar tidak jalan masing-masing, terlebih jika aspirasi politiknya berbeda.

Semestinya, mereka harus menanggalkan kepentingan politik dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara untuk diselamatkan. Satu hal yang langsung dirasakan adalah harga-harga yang melonjak, daya beli anjlok, PHK dan pekerja yang dirumahkan semakin banyak, langkanya barang-barang kebutuhan pokok, aksi borong sembako dan keperluan sehari-hari oleh sikaya.

Nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga 16.000-an per USD. Kalau kondisi ini berlarut-larut diprediksi akan terjadi resesi ekonomi, bahkan lebih parah dari 1998. Ekonomi global pun diprediksi akan melemah dan 20-an lebih negara sudah berhutang dengan IMF untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 ini.

Lembaga riset nasional mestinya lebih fokus untuk mengkaji dan menemukan obat-obatan terutama anti virus Covid-19; bisa juga melalui kerja sama riset dengan negara-negara maju sebagai aksi Shortcut untuk menanggulangi virus Covid-19. Di sisi lain, jangan sampai ada pejabat yang memanfaatkan kesempatan untuk meraup sebesar-besarnya keuntungan untuk bisnis-bisnis pribadi, keluarga maupun kroni-kroninya seperti kasus oknum-oknum muda di lingkaran kekuasaan yang viral.

KALABENDU EKONOMI

Menurut istilah, kala artinya saat atau zaman dan bendu adalah sengsara atau sulit. Jadi kalabendu berarti zaman sulit atau sengsara. Ini merupakan salah satu isi dari ramalan “jangka Jayabaya Raja Kediri”. Kalabendu Ekonomi maknanya zaman ekonomi sulit karena serbuan wabah virus Covid-19 maupun faktor-faktor lain yang kondisinya VUCA (Volatility/bergejolak, Uncertainty/tidak pasti, Complexity/kompleks and Ambiguity/tidak jelas).

Kondisi yang tidak menentu, susah diprediksi, berlangsung sangat cepat dan mengglobal sewaktu-waktu dapat mengakibatkan mati mendadak (sudden death) karena gagal melakukan estimasi, mitigasi, antisipasi dan solusi. Kita harus move on menuju bussiness unusual agar dapat mempertahankan diri sekaligus melakukan lompatan-lompatan strategis agar lebih kompetitif dan mampu memenangkan kompetisi. Untuk menghadapi kondisi VUCA kita dapat menggunakan Jurus VUCA dalamarti Vision/visike depan, Understanding/pemahaman secara detail, Clarity/ketajaman/kejelasan dan Agility/kelincahan) agar mampu mengubah hambatan menjadi tantangan serta mengubah tantangan menjadi peluang untuk lebih maju.

Banyak ahli ekonomi memprediksikan bahwa ekonomi Indonesia akan melemah di bawah pertumbuhan 5 persen, nilai tukar terdepresiasi, pemilik saham asing akan menarik uangnya, pengangguran meningkat, bisnis berhenti terutama sektor pariwisata dan manufaktur. Begitu juga, ekonomi global bakal turun sekitar 2,5persen bahkan lebih rendah.

Data Kemanaker per 13 April 2020 mencatat jumlah pekerja formal yang ter-PHK jumlahnya 212.394 orang, sementara pekerja formal yang dirumahkan ini bisa tidak digaji sama sekali atau digaji sebagian berjumlah 1.205.191 orang. Jadi total pekerja yang dirumahkan dan diPHK ada lebih dari 1,4 juta (orang). Sementara itu tenaga kerja sektor informal tercatat lebih dari 282.000 orang yang dirumahkan/PHK.

Di Kaltim, hingga 8 April 2020 tercatat di Disnakertrans ada 4.109 pekerja dirumahkan dari 70 perusahaan dan 323 tenaga kerja dari 33 perusahaan terkena putus hubungan kerja (PHK). Anjuran pemerintah agar warga #dirumahsaja ini sungguh tidak mudah. Hal tersebut membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk memenuhi semua kebutuhan pokok warganya akibat tidak dapat mencari nafkah di luar rumah, seperti biasanya: terutama bagi warga yang tidak mampu termasuk para pekerja yang dirumahkan/PHK.

Bagi kita hendaknya selalu waspada ikhtiar sekuat tenaga ikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah serta diiringi doa kepada Allah dan semoga musibah ini segera berlalu. Amin. (ndu2/k18)

 

Oleh :

SUHARYONO S. HADINAGORO

Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan

 



Uploaded by admin