|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Artikel dan Opini

Beranda / Aktivitas

07 Jan 2021

Mencermati Puing Roket China Yang Jatuh di Kalimantan

BELUM selesai kehebohan drone laut minggu lalu, sudah muncul lagi kehebohan baru tentang puing roket China yang ditemukan di perairan Kalimantan.

Seyogyanya agar kita tidak hanyut dengan pemberitaan tentang puing roket China maka seharusnya masalah ini datang dari sumber dan instansi yang berwenang. Berikutnya lagi agar tidak berkembang simpang siur, maka harus ditangani oleh lembaga yang kompeten, dalam hal ini mungkin para ahli antariksa di Lapan dan juga para investigator kecelakaan pesawat terbang di KNKT.

Dengan demikian maka kita semua akan memperoleh berita yang benar dan jernih.

Pemberitaan tentang banyak kemungkinan wilayah Indonesia akan sering di jatuhi sampah ruang angkasa sudah cukup lama terdengar. Kemajuan teknologi memang sudah berkembang demikian pesat sehingga dirgantara telah menjadi lahan yang tengah di garap oleh banyak negara-negara berteknologi maju. Pada titik ini sebenarnya sudah harus menyadarkan kita semua bahwa sudah saatnya pula Indonesia memberikan perhatian yang lebih besar lagi terhadap masalah kedirgantaraan.

Apabila kita tidak menghendaki menjadi negara yang hanya menikmati jatuhnya sampah ruang angkasa maka tidak ada pilihan lain untuk maju turut serta menggarap air and space.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar pada pengembangan dalam upaya mengeksplore udara dan ruang angkasa.

Benda yang diduga sebagai sisa sisa puing roket ruang angkasa China tersebut baru atau hanya didasari kepada tulisan yang tertera dalam puing itu CNSA. China National Space Adminstration. Belum ada konfirmasi dari badan antariksai China dalam hal ini.

Pihak Lapan memang menjelaskan bahwa pada tanggal 4 Januari yang lalu telah terdeteksi adanya benda langit yang jatuh di wilayah Indonesia. Selanjutnya belum ada penjelasan resmi dari pihak berwenang tentang benda yang diduga puing roket China yang ditemukan di Kalimantan tersebut.

Penjelasan resmi tentang hal ini sangat diperlukan agar tidak berkembang berita ngalor ngidul yang tentunya akan banyak merugikan kita semua. Yang pasti sekarang ini dan ke depan orang akan mengkhawatirkan tentang akan jatuhnya puing sampah sisa sisa roket dan satelit yang banyak bergentayangan di ruang angkasa.

Dunia memang tengah memasuki abad ruang angkasa. Udara, ruang angkasa dan angkasa luar memang disadari merupakan masa depan umat manusia.

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kalau nanti kita kejatuhan benda langit buatan manusia yang datang dari angkasa luar itu?

Sebenarnya kita tidak usah terlalu khawatir, karena kemungkinan tersebut sangat kecil. Benda langit buatan manusia yang bergentayangan belakangan ini antara lain adalah roket dan satelit.

Produk benda langit buatan manusia adalah produk teknologi tinggi yang sudah memperhitungkan juga tentang keselamatan manusia di permukaan bumi. Bukan tidak mungkin untuk terjadinya kesalahan dan atau kecelakaan, akan tetapi jumlahnya akan relatif kecil.

Tidak usah khawatir. Apabila toh terjadi, maka sebenarnya aturan tentang hal itu sudah ada semuanya, termasuk peraturan yang berkait dengan tanggung jawab negara pembuat roket dan satelit.

Sudah ada Aerospace Treaty tahun 1967 yang membuat aturan hukum menyangkut penggunaan ruang angkasa untuk maksud maksud damai serta tanggung jawab yang harus dipikul secara internasional .

Khusus mengenai tanggung jawab negara dalam hal kemungkinan jatuhnya space object dan sampah roket atau satelit ke bumi yang merugikan negara lain, sudah ada The Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects, dikenal sebagai Space Liability Convention 1972 yang merupakan turunan dari aerospace treaty 1967.

Contoh kasus yang pernah ada dari persoalan tanggung jawab ini adalah apa yang terjadi pada tahun 1978. Ketika itu nuclear-powered Soviet satellite Kosmos 954 yang serpihannya jatuh di Kanada.

Amerika Serikat membantu Kanada dalam Search and Rescue serta Clean up check list Operation karena mengkhawatirkan dampak radiasi dari tenaga nuklir yang digunakan pada satelit Soviet yang jatuh tersebut berpotensi meluas ke wilayah Amerika Serikat.

Walau berlangsung alot, negosiasi klaim ganti rugi persoalan ini dimenangkan oleh pemerintah Kanada. Uni Soviet ketika itu harus membayar claim ganti rugi dengan pembayaran sekian juta dollar AS.

Kasus ini tercatat sebagai satu satunya dispute antara dua negara yang berhasil diselesaikan dengan mengacu kepada Liability Convention 1972 tentang damage caused by space objects.

Konvensi Liability 1972 tentang kerusakan yang terjadi sebagai akibat dari jatuhnya benda langit buatan manusia.

Demikianlah sekedar uraian dari mencermati Puing Roket China yang jatuh di Kalimantan.

*) Chappy Hakim, KSAU 2002-2005, Penulis buku "Tanah Air Udaraku Indonesia"

Sumber: https://money.kompas.com/read/2021/01/07/160700626/mencermati-puing-roket-china-yang-jatuh-di-kalimantan?page=1



Diunggah oleh admin (2021-01-07 17:14:22)

Artikel dan Opini Lainnya