|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Artikel dan Opini

Beranda / Aktivitas

20 Jan 2021

Bulan K3 Perkuat Sumber Daya Manusia di Tengah Pageblug Covid 19

DAMPAK multi-dimensional dari pageblug/pandemi covid 19 telah meluluhlantakkan hampir semua sendi-sendi kehidupan baik skala global maupun nasional. Jutaan orang telah meninggal dan terinfeksi positif kasus corona, pun kondisi ekonomi dunia menjadi terkontraksi sangat dalam dan mengakibatkan resesi ekonomi, termasuk negara kita. Semua upaya extra ordinary telah dilakukan namun hasilnya belum sesuai yang kita harapkan, bahkan terjadi lonjakan kasus positif covid 19 dan kematian. Update data kasus covid 19 di Indonesia pada taggal 15 Januari 2021 (www.covid19.go.id) mencatat bahwa ada 882.418 orang terinfeksi positif, 718.696 orang dinyatakan sembuh dan 25.484 orang meninggal. Sementara itu, kasus di dunia (www.worldmeters.com) tercatat ada 93.494.306 orang terinfeksi positif, 66.769.765 orang dinyatakan sembuh dan 2.0001.038 orang meninggal.

Bulan K3 di tengah Covid 19

     Pencanangan bulan K3 telah dilakukan oleh Ida Fauziah Menteri Ketenagakerjaan R.I pada tanggal 12 Januari 2021 di Aceh dengan tema ” “Penguatan Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Berbudaya K3 pada Semua Sektor Usaha”. Menurut hemat penulis, tema ini sejalan dengan jargon SDM Unggul Indonesia Maju, yang didalam implementasinya membutuhkan komitmen yang sangat tinggi dari semua pemangku kepentingan. Tantangannya pun tidak mudah, mengingat adanya keterbatasan mobilitas akibat covid 19 maupun profil ketenagakerjaan nasional masih didominasi oleh buruh/pekerja dengan pendidikan dibawah SMP (Sekolah Menengah Pertama) sekitar 56 persen maupun ketrampilannya masih rendah.   Data BPS (Agutus 2020) menyebutkan bahwa jumlah tenaga kerja Indonesia sebanyak 38.228.810 orang dengan latar belakang pendidikan : a) tidak sekolah sebanyak 117.994 orang (0,31 persen), b) tidak tamat SD sebanyak 1.858.628 ( 4,86 persen); c) tamat SD sebanyak 6.266.271 orang (16,39 persen), d) tamat SMP sebanyak 5.679.191 orang (14, 85 persen), e) tamat SMA sebanyak 8.380.491 orang ( 21,92 persen), f) tamat SMK sebanyak 6.993.812 (18,29 persen), tamat diploma sebanyak 1.816.598 orang ( 4,75 persen), dan g) tamat universitas sebnyak 7.125.975 (18,64 persen). Sementara itu, jumlah doktor (tamatan S3) di seluruh Indonesia baru sekitar 31.000 orang (atau sekitar 143 orang dari 1 juta penduduk). Di Malayasia ada 509 doktor dari 1 juta penduduk, di Amerika ada 9.850 doktor dari 1 juta pendudk, di Jerman ada 3.990 doktor dari 1 juta penduduk, di Jepang ada 6.438 doktor dari 1 juta penduduk; dan di India ada 3.420 doktor  dari 1 juta penduduk.

     Menurut Ida Fauziah Menteri Ketenagakerjaan  R.I bahwa pekerja sektor informal mencapai 56 persen dan tingkat pendidikannya masih SMP ke bawah. Dan akibat dari pandemic covid 19  menambah jumlah pengangguran akibat diirumahkan maupun PHK ingga 3.5 juta orang. Sehingga perlu program-program penangangan covid 19 dan pemulihan ekonomi nasional (PEN) secara bersama-sama. Dibarengi dengan penguatan kebijakan untuk : a) menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang kondusif, baik bagi pengusaha ataupun pekerja melalui perbaikan regulasi di bidang ketenagakerjaan. b) meningkatkan perlindungan pekerja; dan c) menciptakan lapangan kerja yang masif serta penciptaan pasar kerja yang fleksibel dan efisien.

     Sementara itu data BPS (Agustus 2020) merilis bahwa jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 138 juta orang; terdiri dari 128 juta penduduk yang bekerja dan 9,7 juta penganggur. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pun mencapai 7,07% akibat pandemic covid 19.  Tantangannya pun semakin bertambah baik mengenai kualitas SDM, juga ada persoalan kompetensi dan produktivitas.

Angka Kecelakaan Kerja

     Data BPJS Ketenagakerjaan mencatat bahwa kurun waktu Januari-Oktober 2020 angka kecelakaan kerja mencapai sekitar 177.000 kasus, naik sekitar 55 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai sekitar  114.000 kasus. Disisi lain, kita menghadapi tantangan serius adanya pendidikan yang masih rendah yang dimiliki oleh para pekerja secara nasional yakni sebanyak 56 persen dari 128 juta total penduduk bekerja. Disinyalir ini menjadi salah satu potensi yang menyebabkan rendahnya kesadaran pentingnya perilaku selamat dalam bekerja.  Akibat kecelakaan kerja tidak hanya menyebabkan kematian, kerugian materi, moril dan pencemaran lingkungan, namun juga dapat memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Kecelakaan kerja juga mempengaruhi indeks pembangunan manusia (IPM) dan indeks pembangunan  ketenagakerjaan (IPK). Persoalan nyawa dan kesehatan manusia serta keselamatan adalah yang utama. Safety first. Karena uang bisa dicari, karir bisa dikejar, namun keselamatan dan kesehatan sama sekali tak tergantikan. Untuk itulah maka K3 harus terus kita promosikan sebagai bagian penting dalam perlindungan tenaga kerja. Sejatinya, K3 bukan hanya tanggung jawab para pengusaha dan pemerintah pusat, namun peran penting serikat buruh/pekerja wajib hadir di perusahaan dan lingkungan kerja untuk memberiukan perhatian dan mendorong agar K3 dapat dijalankan secara efektif. Pun, pemerintah daerah harus aktif melaksanakan K3 dan mengontrol pelaksanaanya, mengingat ketenagakerjaan merupakan bagian yang diotonomikan di daerah. Perlu koordinasi dan sinergi yang semakin solid dan tidak terkesan jalan masing-masing dan saling melempar tanggung jawab.

Budaya K3

     Bulan K3 hendaknya dimaknai sebagai upaya untuk mempromosikan dan menjadikan karakter K3 hingga ke garda terdepan (front liner) pekerja di seluruh nusantara agar implementasi dan hasilnya lebih maksimal. K3 sebagai value atau nilai harus ditransformasikan dan dibudayakan kepada semua pemangku kepentingan (stake holders) ketenagakerjaan di mana pun berada. Terlebih di era pandemi covid 19 dan perubahan yang serba VUCA (Volatility/bergejolak, Uncertainty/tidak pasti, Complexity/kompleks and Ambiguity/tidak jelas). Kondisi yang tidak menentu, susah diprediksi, berlangsung sangat cepat dan mengglobal itu sewaktu-waktu dapat menyebabkan kematian mendadak (sudden death) apabila kita gagal melakukan estimasi, mitigasi, antisipasi maupun menyiapkan opsi-opsi solusi yang tepat dan cepat. Sikap positif dan optimis sangat diperlukan agar memacu influencer-influencer yang out of the boxes, jauh menjangkau ke depan dalam melakukan re-definisi dan re-aktualisasi atas perubahan-perubahan dalam proses bisnis maupun urusan pemerintahan.

     Disisi lain, diperlukan perilaku out of the box disertai kompetensi yang tinggi dalam mengembangkan kapabilitas, membantu orang lain belajar, menyelesaikan tugas dengan kualitas terbaik, berani mengambil keputusan secara cepat dan tepat berdasarkan risiko terukur, mengutamakan K3 dan lingkungan, serta melayani dengan hati tanpa batas. Berdedikasi, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, menjaga nama baik sesama pekerja, rela berkorban untuk mencapai tujuan yang lebih besar, patuh kepada pimpinan sepanjang tidak bertentangan dengan hukum dan etika, berkontribusi lebih melampaui harapan untuk membangun dan meningkatkan kapasitas nasional, pantang menyerah menghadapi tantangan dan harapan.  Sehingga perlu penguatan SDM (Sumber Daya Manusia) yang unggul agar benar-benar menjadi human capital yang dapat diandalkan serta memiliki daya saing unggul (competitiveness advantage).

     Pada dasarnya, trasformasi merupakan suatu perubahan rupa, bentuk, fungsi dan lain-lain dari yang sebelumnya menjadi sesuatu yang baru. Sedangkan budaya  K3 merupakan tata nilai keselamatan, kesehatan yang dipedomani oleh setiap pekerja dalam hubungan industrial. Budaya K3 harus ditransformasikan secara masif dan komprehensif yang umumnya sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku kepemimpinan (top management), yang akan diikuti dan didukung oleh semua anggota yang dipimpinnya. Pemimpin akan menciptakan visi perusahaan dan mengejawantahkannya ke dalam misi-misi secara eksponential  agar dapat melakukan lompatan-lompatan pencapaain target maupun tujuan yang luar biasa. Dalam prosesnya, akan terjadi tarik menarik kepentingan antara budaya personal dan budaya perusahaan yang baru. Ada yang mudah beradaptasi dan moved on akibat dari enkulturasi yang efektif terhadap budaya organisasi baru; ada juga yang reluctant akan cenderung mempertahankan budaya lama sebagai akultutasi dirinya karena dalam comfort zone. Tarik-menarik kepentingan itu sesuatu hal yang wajar namun pemimpin harus segera menyatukan dalam sikap dan perilaku perusahaan secara masif dan komprehensif. Kini layar sudah terkembang, kita harus moved on maju bersama dan pantang menyerah. Perlu penguatan antara lain melalui gugus tugas pada setiap bagian dan fungsi sebagai transformer agent untuk mendorong akselerasi dalam menginternalisasikan Budaya K3. Orientasinya harus lebih fundamental berbasis pada dimensi manfaat dan dampak (outcome and impact) atas  semua keputusan dan kebijakan yang diambil. Setidaknya ada 4 (empat) pilar yang perlu diperkokoh dalam proses bisnis perusahaan maupun pemerintahan. yaitu S-4 yang meliputi Struktur, Sistem, SDM (Sumber Daya Manusia) dan Strategi yang dijalankan dalam meralisasikan visi dan misi K3 perusahaan. S-4 harus menjadi kesatuan yang utuh dan komprehensif, elastis menyesuaikan perubahan dan perkembangan baik internal maupun eksternal, dibarengi penguatan intelijen bisnis.

    Penguatan kelembagaan S-4 melalui penguatan Jurus VUCA yaitu Vision (visi ke depan), Understanding (pemahaman secara mendalam) , Clarity (kejelasan) dan Agility (kelincahan) agar mampu mengubah hambatan dan tantangan menjadi peluang untuk mencapai kemajuan di tengah gelombang perubahan. Disinilah diperlukan kepemimpinan yang visioner dan berkarakter negarawan yang didukung oleh seluruh anggota dalam organisasi/perusahaan/pemerintahan. Proses internalisasi dan peningkatan budaya K3 akan berlangsung dinamis seiring dengan tingkat pemahaman dan komitmen masing-masing pemangku kepentingan.

     Kiat-kiat yang dapat dilakukan antara lain : a) Top management menjadi role model transfromasi budaya K3. Pentingnya keterbukaan komunikasi diantara para pimpinan dan  pekerja mulai dari top management sampai front liner, terutama jika ada perubahan-perubahan baru. Yang dapat diakselerasi melalui pembentukan tim kecil atau gugus tugas sebagai transformer agent di setiap fungsi organisasi perusahaan; b) Duplikasi role model dari top management kepada semua pekerja secara terstruktur dan masif, antara lain melalui video Budaya K3, sharing and learning, multi level marketing, forum-forum komunikasi dari pucuk pimpinan hingga garda terdepan mengenai K3; c) Pemberian penghargaan (reward) atas pencapaian target-target pembudayaan K3 maupun sanksi atau hukuman (punishment) atas pelanggaran yang terjadi; d) Perbaikan secara terus menerus (Continously Improvement) atas pencapaian pembudayaan K3 pada semua fungsi organisasi/perusahaan. Harapannya  proses transformasi dan budaya K3 akan berlangsung lebih cepat, tepat dan efisien demi kemajuan ketenagakerjaan Republik  Indonesia.

Penguatan SDM Unggul

     Human Capital menjadi tulanag punggung pembangunan sehingga mutlak diperlukan kompetensi dan integritas yang tinggi agar lebih berhasilguna. Dengan kondisi ketenagakerjaan kita seperti tersebut di atas, perlu dilakuka penguatan-penguatan antara lain melalui S-3 (Re-Skilling, Skilling dan Up-Skilling) melalui diklat-diklat baik formal (lembaga pendidikan) maupun non-formal (badan diklat/kursus-kursus). Tantangan di tengah cobid 19 ini masih terbatasnya akses digital bagi rakyat Indonesia hingga ke pelosok-pelosok negeri sehingga sebagian dari kita akan tertinggal. Konektivitas jaringan internet baru sekitra 47%, masih ada sekitra 12.548 desa yang masih gelap gulita belum teraliri listrik maupun digital big data masih berada di Singapura. (penulis, eperpusnas 3 September 2020). Belum lagi, persoalan mislink and mismatch SMK-SMK dengan dunia kerja. Oleh karena itu, implementasinya harus benar-benar bebasis pada kebutuhan pasar sehingga sinergi penta helix ( pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha dana media) harus lebih ditingkatkan untuk mengatasi berbagaia persoalaana, disamping menambah porto folio untuk Kementerian Ketenagakerjaan.

Insentif/Bonus Demografi

     Indonesia akan memasuki puncak bonus demografi pada periode 2020-2030, di mana pada periode tersebut struktur penduduk Indonesia sebagian besar akan diisi oleh penduduk usia muda produktif berusia 20-39 tahun. Saat ini, pemuda yang berumur 16-30 tahun yang bekerja dan memiliki tingkat pendidikan SMA ke atas mencapai  60%. Kemudian, pada tahun 2030, diproyeksikan bahwa Indonesia membutuhkan tenaga kerja terampil sekitar 113 juta namun yang tersedia baru sekitar 57 juta orang (sekitar 50%). Pun, setiap tahunnya Indonesia membutuhkan sekitar 3,7 juta tenaga kerja terampil. Sehingga perlu kerja cerdas, fokus dan bersama-sama untuk menyiapkannya.

Pacu Produktivitas Kerja

    Indeks produktivitas pekerja Indonesia menduduki urutan ke-4 diantara negara-negara ASEAN, berada dibawah Singapura, Malaysia dan Thailand. Berdasarkan data dari Asian Productivity Organization (APO) produktivitas pekerja Indonesia sekitar US$ 24.900 setrara Rp 348 juta., sementara itu produksi pekerja Singapura US$ 131.900, malaysia US$ 56.400 dan Thailand US$ 28.300. Sehingga kita perlu memacu lebih kencang lagi antara lain melalui peningkatakan kesehatan, gizi, ekonomi dan pendidikan secara masif, fokus dan terus-menerus guna mengejar ketertinggalan. Pun, peningkatakan pendidikan vokasi melalui perubahan kurikulum yang lebih fleksibel guna menyesuaikan dengan tuntutan zaman yang serba digital dan cerap berubah. Redefinisi BLK-BLK untuk mengatasi persoalan re-skilling, upsakilling dan skilling agar persoalan ketidaksesauain/mismatch dengan dunia industri dapat diatasi.

    Perlu melakukan penguatan antara lain melalui strategi : 1) Mempersiapkan tenaga kerja memasuki pasar tenaga kerja dengan melakukan harmonisasi standardisasi dan sertifikasi kompetensi melalui kerjasama lintas sektor; 2) Meningkatkan akses pekerja kepada sumber daya produktif melalui peningkatan keterampilan pekerja dengan cara melakukan pelatihan; 3) Peningkatan akses angkatan kerja kepada sumber daya produktif; 4) Peningkatkan fungsi pasar tenaga kerja dengan cara memastikan job matching dilaksanakan dengan tepat; 5) Mendorong pengembangan ekonomi perdesaan dengan cara meningkatkan prasarana dan sarana perekonomian daerah dan perluasan akses kredit bagi pelaku ekonomi; 6) Membekali pekerja dengan pengetahuan, pendidikan dan keahlian; 7)  Memperbesar pemanfaatan jasa keuangan bagi pekerja dengan mendorong pengembangan penyedia kredit; 8) Menciptakan hubungan industrial yang harmonis; 9) Penguatan tindakan hukum; dan 10) Pengembangan sistem pengawasan dan evaluasi peraturan ketenagakerjaan dengan dukungan anggaran yang memadai.

     Harapannya agar peringatan Bulan K3 dapat memperkuat SDM sebagai modal utama dalam pembangunan sehingga efektif dan efisien dalam meraih kinerja safety (keselamatan dan kesehatan) dan produktivitas pekerja. In paralele akan meningkatkan daya saing yang andal dalam membangun bangsa dan Negara Indonesia tercinta sekaligus mampu bersaing dengan negara-negara lain baik regional maupun global. Semoga. (Email : harysmwt@gmail.com; www.webkita.net).

 

*DR. K.R.A.T. Suharyono S. Hadinagoro, Praktisi Pembangunan Berkelanjutan & Ketahanan Nasional, Alumni PPRA LIX



Diunggah oleh admin (2021-01-21 08:59:26)

Artikel dan Opini Lainnya

Artikel dan Opini - 10 Jan 2021


Menduga Penyebab Jatuhnya Pesawat