04 Desember 2017

Pusdiklat Perpusnas Adakan Diklat Penanganan Bencana

Salemba, Jakarta–Indonesia merupakan salah satu negara dengan intensitas bencana alam cukup tinggi. Hal ini lumrah mengingat letak geografis Indonesia yang dikepung oleh dua lautan luas (Samudera Hindia dan Pasifik), dan juga merupakan jalur dari lintasan gunung api dunia. Letusan gunung api, ancaman tsunami, dan gempa bumi adalah ancaman alam yang bisa terjadi kapan saja. Sehingga mau tidak mau diperlukan tingkat kewaspadaan yang tinggi dan pengetahuan yang cukup memadai tentang cara mengatasi atau melindungi diri jika terjadi hal demikian. Pun, cara menanggulangi andai musibah  alam atau karena kelalaian manusia menimpa koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan.

Menindaklanjuti hal tersebut, Perpustakaan Nasional melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) mengadakan Diklat Penangangan Bencana di lingkungan internal Perpusnas, di Salemba, Jakarta, Senin, (4/12). Diklat  diikuti oleh 30 perwakilan dari tiap unit kerja yang terdiri dari pustakawan, konservator, dan teknisi. Kepala Pusdiklat Widianto mengatakan diklat ini penting untuk diketahui dan diikuti karena secara internal masih banyak yang belum memahami langkah-langkah yang mesti diambil jika terjadi musibah, baik yang disebabkan oleh alam atau faktor kelalaian manusia.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyambut baik penyelenggaraan diklat ini. Momentnya tepat mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi musibah di Indonesia. Indonesia, lanjut Syarif Bando,  bisa meniru Negeri Kincir Angin (Belanda–red). Meski secara geografis, Belanda berada dibawah permukaan air laut, namun tidak terjadi banjir disana. Penanganan tata kota, antisipasi terhadap bencana ditambah budaya kesadaran dari masyarakatnya yang sudah tinggi menyebabkan Negara ini bebas dari ancaman banjir. Rumah-rumah tinggal di Belanda dibuat menghadap ke sungai-sungai. Kebalikannya, rumah-rumah tinggal di Indonesia justru membelakangi sungai, sehingga tidak aneh jika kebiasaan membuang sampah ke sungai masih menjadi budaya.

“Ada dua hal yang dilakukan agar terhindar dari musibah, yakni sikap kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi musibah yang bisa datang tidak terduga,” ujar Kepala Perpusnas. Di akhir sambutan, Kepala Perpusnas meminta agar materi-materi selama diklat di-share agar siapapun bisa melihat. “Transfer knowledge harus tetap berjalan”.

Diklat Penanganan Bencana dilakukan selama tiga hari dengan menghadirkan pembicara dari tenaga konservator naskah, Kementerian Tenaga Kerja, dan Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta.

 

Reportase : Hartoyo Darmawan

Berita Lainnya