30 Juli 2017

Roadshow Perpusnas 2017 di Gorontalo : PR Untuk Menumbuhkan Budaya Baca

Gorontalo, Gorontalo–Merubah dari hal kecil kemudian menjadi hal besar yang berdampak hebat bagi sekitar tidak sekedar niat, tapi juga butuh kemauan yang kuat dan semangat yang pantang padam. Tanpa itu, sehebat apapun konsep hanya akan menjadi macan kertas. Kepedulian dan keseriusan dari semua pihak ditambah intervensi pemerintah setempat mutlak diperlukan agar program yang disusun tidak berhenti di tengah jalan.

Bangsa Indonesia bisa dikatakan masih tertinggal dalam angka minat baca dibanding negara-negara Asia lainnya, seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura. Harga buku yang mahal, seringkali menjadi penyebab betapa sulitnya mendongkrak minat baca masyarakat Indonesia. Padahal mahalnya harga buku bisa disiasati masyarakat dengan mendatangi perpustakaan. Perpustakaan menjadi satu-satunya tempat di mana masyarakat bisa menemukan informasi maupun pengetahuan yang diinginkan masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya mahal.

“Permasalahannya, adakah kemauan, kepedulian dari semua pihak untuk mengubah kondisi kesejahteraan hidupnya. Negara Jepang dan Korea Selatan merupakan contoh bagaimana kemajuan bisa diperoleh  dengan kemauan. salah satunya dengan memberdayakan perpustakaan sebagai sarana solutif perubahan taraf hidup suatu masyarakayt,” terang Kepala Perpusnas Muh. Syarif Bando saat Road show Perpusnas 2017 di Gorontalo, Kamis, (27/7).  Di setiap negara maju selalu ada perpustakaan yang modern. Di negara yang berkembang juga ada perpustakaan yang berkembang. Sebaliknya, di negara yang terbelakang, tidak ada bangunan perpustakaan di dalamnya. Tidak ada proses kreatifitas dan inovasi di dalamnya, hanya menggantungkan nasib dari yang lain. Tanpa perpustakaan, sulit diciptakan peradaban. Potret masyarakat saat ini adalah buah dari belasan tahun yang kita lakukan sebelumnya.Kondisi geografis Indonesia seringkali menjadi hambatan sulitnya bahan bacaan tersedia secara berkala, sehingga masyarakat memerlukan sosok-sosok yang luar biasa yang mampu berperan sebagai agen perubahan bagi lingkungan sosialnya. Rendahnya angka minat baca salah satunya disebabkan karena tiada bahan bacaan yang mau dibaca.

Dengan seringnya membaca kemampuan literasi bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Literasi adalah kemampuan menyerap dan mendayagunakan setiap informasi yang diterima sehingga bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitar. Jika kemampuan literasi sudah baik, mustahil informasi yang menyesatkan (hoax) bisa dipercayai begitu saja. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika budaya baca harus ditumbuhkan, ditularkan dan dibudidayakan seluas-luasnya.

Saat ini tidak dipungkiri pusat-pusat perbelanjaan tumbuh dan menjamur di setiap kota. Pesatnya pusat berkumpul modern dan aneka hiburan cukup membuat siapapun sanggup menghabiskan waktu berlama-lama. Namun, masih sedikit yang mau menghabiskan waktu untuk membaca. “Maka itu, diperlukan langkah persuasif untuk merubah mind set itu. Karena sebagian besar masyarakat belum terbiasa. Belum terbiasa menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli buku,” ungkap Plh. Sekda Gorontalo, Anis Maki. Mensiasati itu, pihaknya mengaku tengah mengupayakan langkah-langkah peningkatan mutu dan kualitas SDM, termasuk mutu SDM tenaga pendidik lewat alokasi anggaran. Intervensi semacam diharapkan ampuh menaikkan minat baca masyarakat. Kurangnya mutu dan SDM dirasakan benar dampaknya dimana terlihat rendahnya kemampuan dan kemahiran siswa pascalulus dari bangku sekolah.

Reportase : Hartoyo Darmawan

 

 

Berita Lainnya